RETHINKING MARHAENISME

Suratnusantara.com Mamuju-Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan yang berasaskan marhaenisme,  sudah seyogyanya GMNI mengambil peran sentral dalam masyarakat dan menjadi spektrum gerakan mahasiswa apabila problematika sosial carut marut dikarenakan kebijakan pemerintah yang timpang. Marhaenisme adalah ideologi yang watak perjuangannya untuk membebaskan kaum marhaen dari ketertindasan manusia atas manusia dan bangsa atas bangsa seperti kata Bung Karno. Tetapi ideologi yang ideal ini, sebagai jalan alternatif pembebasan marhaen harus dirumuskan kembali secara metodologis agar tidak hanya mengudara di alam pikiran setiap penganutnya namun bias dalam aktualnya di realitas sosial masyarakat.

Rethinking Marhaenisme

Marhaenisme adalah Marxisme yang disesuaikan dengan kondisi dan keadaan Indonesia seperti kata Bung Karno. Penjajahan kolonialisme dengan watak dan ciri khasnya sendiri melahirkan antitesis berupa Marhaenisme sebagai ideologi perlawanan terhadap kapitalisme Belanda waktu itu. Tetapi hari ini Marhaenisme sebagai ideologi yang diyakini GMNI sebagai senjata itu untuk melawan penindasan, telah berada pada ruang dan waktu yang begitu baru dan sudah sangat berbeda seperti zamannya Bung Karno ketika bertemu Kang Marhaen di bandung.

Eskalasi perubahan tatanan sosial dan paradigma berpikir sangat dipengaruhi dengan perkembangan teknologi saat ini. Karena itulah GMNI harus me rethinking kembali marhaenisme sebagai ideologi perjuangan serta strategi dan taktik yang ditawarkan. Karena untuk terus hidup dalam dialektika zaman, ideologi dan stratak organisasi harus dinamis dan adaptif terhadap kemajuan peradaban.

Collective Consciousness To Collective Change

Tak ada perubahan yang konkret tanpa gerakan yang konkret.

Tak ada gerakan yang konkret tanpa teori yang konkret. Dan tak ada teori yang konkret tanpa kesadaran ideologis yang konkret

Marhaenisme selalu menjadi ideologi yang kita agungkan di setiap kegiatan PPAB, KTD, Diskusi, Dan Seminar di internal GMNI. Tetapi belum ada sebuah semiotika yang kongkrit bagaimana mengejawantahkan praksisnya dalam perjuangan GMNI di lapangan. Banyak diantara kita meyakini marhaenisme sebagai ideologi perjuangan, tetapi itu hanya di alam pikiran dan ucapan, belum tiba pada tahap pengaktualisasian di alam materi. Kita sesama kader justru banyak bertengkar oleh hanya hal-hal yang tidak substantif dan konkrit sebagai sebuah organisasi perjuangan kerakyatan.

Oleh karenanya perlu menggali lebih dalam ideologi agar lahir kesadaran ideologis. Terus jangan menganggap bahwa GMNI hanya sekedar mediator antara rakyat dan pemerintah. Harus lebih jelas di konkretkan bahwa garis keberpihakan GMNI adalah untuk Marhaen (Rakyat Indonesia) agar tidak ada lagi dikotomi yang parsial terhadap GMNI sebagai organisasi mahasiswa dan Rakyat itu sendiri sebagai entitas yang diperjuangkan.

“Tapi tentunya itu semua harus dilakukan dengan penuh kesadaran. Kesadaran lahir karena adanya kesesuaian antara ide dan realitas. Dan itu hanya bisa terjadi ketika kader GMNI tidak hanya sekedar banyak ngopi, gosip, nyinyir, apalagi sentimen kepada sesama kawan seperjuangan. Jadikan kongres 21 GMNI sebagai momentum introspeksi nasional untuk mencegah amnesia nasional. Mari membiasakan kebenaran bukan membenarkan kebiasaan. Marhaen Menang GMNI Jaya Merdeka…!!!”¬†Oleh Esa Hermansyah, Ketua GMNI Mamuju Periode 2017-2019

Ipee/Ah

surat nusantara

surat nusantara adalah sebuah media online yang bergerak di bagian berita. surat nusantara perlokasi di daerah mamuju, sulawesi barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *