Misteri Dibalik Pemborongan 32 Ton Gula Bulog, “Masyarakat Untung Atau Buntung?”

Suratnusantara.com Mamuju-Mamuju-Polemik borong kebutuhan pokok di Perum Bulog Subdivre Kabupaten Mamuju dengan jumlah besar, 32 ton melukai hati masyarakat. Keputusan Bulog dinilai bertentangan dengan wajah pasar saat ini di Mamuju.

Gula menjadi kebutuhan pokok yang terpantau mengalami lonjakan harga signifikan selama pandemi covid-19 dan bulan Ramadan, justru diperjualbelikan secara bebas kepada individu yang bukan menjadi distributor resmi Bulog.

Melalui pemberitaan media massa, Sutinah menyampaikan telah memborong 32 ton gula di Perum Bulog Subdrive Mamuju. Gula tersebut dikatakannya akan dikemas 17 ribu paket sembako yang akan dibagikan ke masyarakat.

Gebrakan Ketua organisasi masyarakat itu tentu menjadai harapan masyarakat di tengah terpukulnya ekonomi akibat pandemi. Namun ali-ali direspon positif oleh semua masyarakat, sebagian masyarakat justru merasa khawatir.

Ibu Hasnah misalnya, dengan melihat terbatasnya ketersedian gula pasir di pasaran, akan mempengaruhi harga semakin melonjak dan akan merugikan masyarakat yang tidak semua mendapatkan bantuan itu.

“Bulog seharusnya menjadi penyangga dan tata kelola persediaaan, menyalurkan dan mengendalikan harga bahan pokok, serta melakukan usaha jasa logistik yang sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jangan justru memberikan keleluasaan untuk diperjualbelikan dengan jumlah besar,” katanya, Selasa (5/5/2020).

Saat dikonfirmasi Kepala Perum Bulog Subdivre Kabupaten Mamuju Muhammad Natsir menyampaikan bahwa tidak ada yang salah. “Yang salah ketika dibeli dan kemudian ditimbun, lalu dijual lagi dengan harga mahal,” tegasnya, Senin (4/5/2020).

Apakah semua orang bisa membeli dengan jumlah besar di Bulog? Ia menjawab tidak. “Semua bisa, hanya saja yang ditunjuk sebagai distributor seperti Toko Subur.”

Lalu sipemborong gula pasir 32 ton melalui apa pak? Pria berkecamata itu membelot dari jawaban dan bertutur, untuk disumbangkan dan itu tidak apa-apa. “Kan mau disumbangkan, kan di sini paket.”

Ia pun mengaku tak mengetahui secara pasti jumlah kebutuhan sembako yang diborong Sutina. “Coba tanya aja ke beliau berapa? Kalau beliau mengakui itu, ya silahkan konfirmasi ke beliau!” ujarnya dengan nada kesal.

Sebelumnya Pihak Perum Bulog Mamuju mengklaim ketersediaan beberapa kebutuhan pokok yang disimpan di gudang masih cukup untuk beberapa bulan ke depan. Bahan pokok yang dimaksud seperti, gula pasir, beras, minyak goreng.

Kepala Perum Bulog Subdivre Mamuju Muhammad Yatsir yang ditemui di kantor, Senin (4/5/2020) menolak menyebutkan angka ketersediaan stok pangan di Bulog. Menurutnya itu informasi tersebut dibatasi.

“Kami memang membatasi informasi (Jumlah), jadi tidak boleh,” katanya. Ia pun tak mengetahui berapa jumlah pasti gula yang telah terjual.

Natsir yang bersikeras menolak menyebutkan angka kemudian bersedia memenuhi keinginan wartawan untuk mengecek langsung ke dalam Gudang Bulog.

Dari pantauan wartawan, gudang yang terletak di belakang kantor Bulog Mamuju sedang terjadi bongkar muat kebutuhan pokok. Beberapa orang juga terlihat mengemas paket sembako yang dibungkus dalam plastik warna putih.

Di sisi depan, tersusun beberapa karung berisi gula berat 50 Kg yang jumlahnya sisa sekitar kurang lebih 50 karung. Sementara sebagian lagi sudah dikemas per satu kiloan. Ini memberikan isyarat bahwa stok gula digudang Bulog diduga minim.

surat nusantara

surat nusantara adalah sebuah media online yang bergerak di bagian berita. surat nusantara perlokasi di daerah mamuju, sulawesi barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *