Mahasiswa Di Tengah Arus Pragmatisme Gerakan

suratnusantara.com

mamuju-Siapa yang tak kenal dengan pemuda/mahasiswa Indonesia, ada Syahrir, Bung Tomo, Bung Hatta, Bung Karno dan Tan Malaka, sampai Gie dan termuda si Budiman serta banyak lagi pemuda. Mereka adalah Super Hero dalam pejuang kisah perjuangan Negeri, entah itu zaman kolonialisme, orde lama, apalagi orde baru, reformasi pun berlalu hingga hari ini zaman demokrasi, pemuda/mahasiswa dengan mudah meneriakkan suara lantang demi sebuah kebenaran. Lantas kemudian di tengah arus pragmatisme gerakan sosial, letak peranan mahasiswa sebagai agent of social control serta sebagai agent of change, dapat di pastikan bahwa gerakan sulit tercapai jika para aktor sudah mulai terjangkit sakit flu yang berat.

Mahasiswa sekarang mengalami degradasi baik dari segi intelektualisme, idealisme, patriotisme dan nasionalisme serta kehilangan jati diri bak sekoci di tengah lautan yang luas. Bahkan muncul gejala baru yaitu sikap pragmatisme yang dilakukan oleh aktor-aktor yang berdiri tegak berteriak lantang atas nama rakyat.

Begitu beragamnya persoalan yang di hadapi gerakan mahasiswa sampai-sampai kita tak mampu lagi membedakan manakah persoalan besar dan kecil antara orientasi dan problem internal organisasi dan individu. Sehingga ketika di perhadapkan perubahan isu yang cepat, mahasiswa bukan hanya kehilangan strategi, tetapi juga kehilangan kerangka untuk membaca situasi karena gerakan-gerakan mahasiswa sudah di tunggangi oleh kepentingan-kepentingan kekuasaan, sehingga nalar berfikirnya berubah menjadi serangga-serangga yang berbahaya.

Dan ketika sudah terjadi seperti itu, masihkah mahasiswa di jadikan super hero di tengah arus persoalan bangsa Indonesia dan pahlawan di tengah permasalahan rakyat, bahkan dalam bukunya pram “saya ingin lihat semua ini berakhir” Artinya apa, janganlah ada kepura-puraan dalam sebuah perjuangan murni atas nama Rakyat. Bung Karno takkan jadi pahlawan ketika tak di jadikan Super Hero oleh Belanda sehingga di agung-agungkan oleh masyarakat Indonesia hingga ke pelosok Nusantara.

Ketika ingin berjuang untuk Negeri, maka kemerdekaan individu pun harus kita korbankan, kata si Tan Malaka. Maka dari itu, kita berjuang bukan hanya atas nama sebuah golongan, tetapi kembalilah pada apa yang menjadi perjuangan kita yaitu amanat penderitaan rakyat.

Penulis:Bung Bayu Alfarizi

surat nusantara

surat nusantara adalah sebuah media online yang bergerak di bagian berita. surat nusantara perlokasi di daerah mamuju, sulawesi barat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *